Daisypath Anniversary Years Ticker

Saturday, June 6, 2015

KISAH INI FIKTIF



Malam Minggu. 
Iseng. 
Nggak ke mana-mana. 
Utak atik foto. 
Jadi ginian. 
Enjoy.

Kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka.
Hihihi..


1
2

3

4

5

6


7
8

9

10

11
12

13
Sekian.

Sometimes you just need to be with someone you love on Saturday night, watching movie together, hug each other tight and enjoy the time. Di luar sana macet bo!


Tuesday, February 24, 2015

THE SADDEST MOMENT IN MY LIFE

I wrote this almost a year ago, but I had no courage to post it in my blog. I think finally I can pull myself together and publish it anyway. However, it still hurts when I realize that she's gone for good..
---------------------------------------------------------

My mom passed away on April 18, 2014 at 21.30 WIB, after a long illness. I was sitting next to her. Hold her hand, whispering the name of Allah on her right ear.

She died wearing dress that I gave on her birthday 3 years ago. In the last month of her life, she slept everyday in my brother's room, and that evening, she chose to die on her favorite couch that my husband gave her. The last wish she couldn't get was seeing my dad because my dad was away at that time, in Sorong, Papua. But thank God, that evening I could get her my dad's voice thru the cell phone. They were talking for a while, my mom was crying, and my dad was trying to cheer her up. He promised will come on earliest flight tomorrow morning. But few hours later after they talked, she was gone. My dad cried like a child when my brother told him the news. And so the rest of my aunts, where my dad stayed home at. Good bye mom, I saw you die peacefuly, you died husnul khotimah, insha Allah.

Tuhan Titiplah Ibuku.
-----------------------------


terlalu singkat rasanya waktu yang
Engkau berikan
meruak masih sejuta kata
yang belum aku sampaikan
tertulis sudah penaMu
tergores takdir berpisah
tertinggal hanya seribu maaf
tak sempat aku haturkan

doaku Tuhan, titiplah ibuku selalu di sisiMu
dan Tuhan kumohon ampunilah segala dosanya
terimalah ibuku dan jagalah dia selamanya

di alam nanti mungkinkah
Kau pertemukan lagi kami
terhimpun masih selaksa cinta
yang ingin aku ungkapkan, oh Tuhan..

Tuhan aku kirimkan sejumput doa
titiplah ibuku.

dan Tuhan kumohon ampunilah segala dosanya
terimalah ibuku dan jagalah dia selamanya

Edited from
Tuhan Titiplah Orang Tuaku, by Budi Bidun.



Goodbye Mom..

BERWISATA KE TAMAN NASIONAL UJUNG KULON


Tanggal 21-22 Pebruari 2015 saya dan suami alhamdulillah berkesempatan jalan-jalan ke Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Senangnya? Jangan ditanya. Eh boleh deh ditanya, jawabannya adalah seneng bangeeeet.. Kenapa? Karena sebelumnya saya udah beberapa kali secara gak langsung merasa dikomporin sama teman saya si Adek Dera Soekandar yang tahun lalu jalan-jalan ke sana dan berhasil bikin saya takjub ngeliat pemandangan alamnya. 

Trip dimulai dengan berangkat dari meeting point di Pasar Festival, Kuningan Jaksel. Tim kami terdiri dari 11 orang. Dikit ya? Gpp, biarpun cuma bersebelas tapi hebohnya lebih dari 111 orang kok, hahahaha.. lebay. Diperkirakan perjalanan akan berlangsung selama 8 jam ke ujung barat pulau Jawa. Tujuannya adalah desa Sumur, Banten.


Berangkat pake mobil Elf, perjalanan dimulai pukul 10 malam, Jumat 20 Pebruari 2015, menuju barat, ke arah Serang kemudian Cibaliung dan Pandeglang. Suasananya menyenangkan banget alias semua ngantuk dan tidur, hehehe.. Sempat kebangun beberapa kali karena supirnya ngebut banget, mungkin karena jalanan gak terlalu ramai. Tapi lalu saya tertidur lagi. Terus sempet kebangun lagi karena jalanan yang dilalui lumayan rusak. Denger-denger dari EO nya, katanya ini udah lumayan, gak terlalu parah seperti tahun lalu. 

21 Pebruari 2015
Alhamdulillah ternyata nyampenya 2 jam lebih cepet dari perkiraan, alias cuma 6 jam, alias kepagian, alias jam 4 dini hari, hehe.. Tapi lumayanlah, jadi bisa tiduran tanpa gelombang darat di sebuah kantor desa, semacam kantor Kelurahan setempat, sebelum masuk waktu sholat Subuh. Ini sedikit penjelasan wilayahnya yang saya contek dari papan pengumuman kantor tersebut.


Istirahat sejenak di kantor kelurahan (atau kecamatan?)

Luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon 120.551 ha, terdiri dari:
Luas Daratan: 76.214 ha.
Luas Perairan Laut: 44.337 ha.
Secara administratif Taman Nasional Ujung Kulon terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten, yang secara geografis terletak antara 10202'32" - 10537'37" BT dan 0630'43" - 0652'17" LS.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke tempat kapal berlabuh sekitar 1 km lagi. Tiba di desa Sumur suasana masih gelap, penduduk pun belum banyak yang bangun. Jadi tidur-tiduran lagi deh. O iya, desa ini banyak banget anjingnya, tapi anjingnya gak ada satupun yang galak atau hobi ngendus-ngendus. Jadi saya yang parno sama anjing pun tenang jalan-jalan melihat-lihat desa dan laut lepas dari tepi pantai. Banyak terlihat Bagan, penangkap ikan di sepanjang laut. Terlihat juga pulau Umang di seberang, tidak terlalu jauh. Kalau ke sana pakai kapal, paling hanya 15-20 menit perjalanan. Pulau Umang juga adalah pulau wisata, namun memang isinya hanya resort dan tempat bersantai keluarga. Nggak ada taman nasional di sana. 


Deretan bagan (alat penangkap ikan) di desa Sumur

Jam 7 kami sarapan pagi, dan sambil menunggu kami pun ngobrol-ngobrol sambil saling memperkenalkan diri. Yup, itu jalan bareng satu mobil semalaman belum sempet kenalan yang bener, cuma salaman-salaman terus tidur, hahahaha.. 


Sarapan dulu sebelum nyebrang.
Nyebrang pake perahu ke kapal

Jam 8 pagi kami nyebrang pakai perahu kecil ke arah kapal kayu yang berlabuh agak jauh dari pantai, karena di pantai gak ada dermaga. Menyenangkaaan, cuaca cerah, angin bersahabat, dan lautnya tenang. Alhamdulillah.

Jam 10.30 tiba di pulau Peucang. Pantainya baguuus banget, pasirnya putiiih, lautnya jernih dan ikannya banyaaak, gak sabar pengen nyemplung. Di pulau Peucang banyak babi hutan berkeliaran, bukan dalam hutan, tapi di area terbuka tempat kami mendaftarkan rombongan di kantor setempat. Lagi-lagi, babinya juga gak galak, malah cenderung cuek. Ya setipe anjing di desa Sumur tadi. Mungkin mereka sudah sepakat bersikap seperti itu, namanya 'kesepakatan anjing dan babi', hahahahaha..


Welcome to pulau Peucang!

Bengong liat babi hutan liar


Jam 11.00 kami mulai menyusuri hutan dengan berjalan kaki. Masya Allah, yang namanya hutan itu ya (dan ini yang ngomong saya, yang hampir gak pernah masuk hutan seumur-umur), menakjubkaaan banget! Begitu masuk, banyak suara-suara yang bikin merinding, entahlah itu suara apa, bisa jadi suara tonggeret atau burung atau monyet, pokoknya yang tadinya saya kira bakal sunyi senyap, ternyata ramai sekali. Padahal sejauh mata memandang hanya pohon-pohon, akar-akar, pohon tumbang, jamur, dan berbagai macam tanaman. Bikin merinding tapi nggak bikin takut. Lalu tau-tau ada yang muncul di balik pepohonan. Rusa! Saya dengan noraknya mendekati karena ingin foto bareng, tapi rusanya lari, hiks.. Ternyata gak berapa lama saya melihat rusa-rusa lainnya bermunculan, memperhatikan kami dari kejauhan. Ya udah karena mereka ga mau didekati, jadinya kami hanya memotret mereka dari kejauhan juga (dizoom biar keliatannya deket, hehehe..)


Berjalan menyusuri hutan
Rusanya takut sama orang

Jam 12.00 hutan yang kami lalui menjadi semakin terang karena ternyata di ujung sana ada pantai. Yes, kami sudah sampai di pantai Karang Copong. Satu lagi keindahan terpajang di depan mata. Laut lepas dengan pantai berbatu-batu. Karena air sedang surut, jadi kami bisa jalan agak ke tengah laut dan menikmati nikmatnya merendam kaki yang lelah di air laut yang sejuk, setelah berjalan sejauh 4 km selama 1 jam. Alhamdulillah, nikmatnya.. Terbayar semua rasa lelah.. :)


Pantai Karang Copong


Bagus kan pemandangannya?

Jam 12.30 kami kembali masuk ke hutan yang tadi kami lalui. Balik ke tempat awal. Berjalan melewati jalan setapak yang sama, namun tetap dengan sensasi kekaguman yang belum habis-habis. Sambil menghirup dalam-dalam udara di hutan, dan mengisi paru-paru kami dengan oksigen bersih yang jauh dari polusi. Makasih ya Allah, atas keindahan ini.

Jam 13.30 kami keluar hutan, sholat, lalu makan di atas kapal sambil menikmati pemandangan laut dan pantai sambil merasakan sejuknya angin sepoi-sepoi.. fiuh, gak nyesel banget deh dateng ke tempat ini. Gak lama kemudian, kami bersiap-siap ke tempat snorkling. 


Main air, snorkling, horee

Snorkling selama satu jam, kecipak kecipuk sambil ada sedikit drama rumah tangga antara pak dan bu Deri. Lumayanlah jadi tontonan teman-teman, semoga hidup kami menceriakan hidup anda, hahahaha.. 

Setelah puas snorkling, kami menuju pulau Handeuleum, tempat kami akan bermalam. Jam menunjukkan pukul 15.30. Tiba di pulau Handeuleum pukul 18.00, lagi-lagi kami dibikin merinding. Karena ternyata ini pulau yang sangat sepiii.. Beda dengan pulau Peucang yang lumayan ramai dengan wisatawan. 


Dermaga pulau Handeuleum

Jalan menuju penginapan kami pun agak-agak horror. Nggak keliatan ada bangunan apapun. Tapi karena menjelang maghrib, dan pasti kalau gelap bakal lebih serem lagi, ya sudah tanpa banyak tanya kami buru-buru melewati jalan setapak di depan kami. 


Jalan setapak menuju penginapan di Handeuleum

Akhirnya tampak juga bangunan tempat kami akan menginap. Kata teman-teman trip, kayak di film "Villa Berdarah" hahahaha..  (ketawa padahal sumpe takut banget)


Di ujung jalan setapak, wak waaw.. villanya muncul!

Ada petugas yang mengurus tempat itu, dan mereka pun punya rumah tersendiri di sekitar situ. Selebihnya, lingkungan ini lagi-lagi dikelilingi hutan yang gelap dan liar. Saat sunset, suasana indah lagi-lagi terpampang di depan mata. Masya Allah, indahnya ciptaanMu..


Sunset di pulau Handeuleum

Ternyata suasana penginapannya cukup menyenangkan. Rumahnya bersih, kamarnya juga bersih, dan syukurnya kami bersebelas, jadi rame hehehe.. Nggak ada rombongan lain lagi, hanya rombongan kami yang menginap di pulau ini.

Malamnya, setelah dinner, ada yang mendekati teras rumah kami. Berjalan dengan anggun perlahan dan penuh rasa ingin tahu. Ya, rusaaaa! Waah, senangnya tak terkira. Rusa-rusa ini jinak sekali. Mereka mau makan langsung dari tangan kami. Bahkan ada teman-teman yang memberi makan dari mulut ke mulut. Seruuuu! Kebetulan banyak roti yang tidak kami makan, jadi kami memberikannya pada mereka. 


Jinak-jinak rusa, bukan merpati hehe..

Jam 10 malam, kami langsung pulas semua. Kelelahan setelah aktifitas seru seharian. 

22 Pebruari 2015
Jam 5 subuh aktifitas kami kembali dimulai. Buru-buru kami ke dermaga karena ingin mengejar sunrise. Alhamdulillah ternyata sunrise muncul dengan sangat lambat di sini. Sebelum sang mentari terlihat, semburat warnanya di langit begitu memukau, speechless ngeliatnya. Wow, indahnya tanah airku..


Menanti sunrise
Akhirnya muncul juga si matahari


Kami sarapan di dermaga, menikmati setiap suapan dengan penuh rasa syukur. Pantai yang bersih, mentari yang masih malu-malu, aroma laut yang menenangkan. Nikmaaat tiada tara.. 


Sarapan di dermaga
I love you suami, jangan mesem-mesem dong!

Setelah sarapan, kami menjelajah lagi pulau ini, walau hanya di seputaran penginapan. Ada satu lagi sisi lain pulau ini yang agak bikin merinding. Di salah satu tepian pantai, terlihat sebuah boneka lusuh yang digantung di ranting pohon. "Ada Conjuring!" kata suami saya, hihihi.. Di dekat pohon tersebut ada rongsokan perahu tua yang dibiarkan begitu saja. Namun tetap saja ada keindahan yang terlihat di situ. 


Siapa yang menggantung dia? kasihan..
Rusted old boat

Sempat memberi makan rusa lagi, bercanda-canda lagi dengan satwa manis itu, hati rasanya adem beneeerrr.. Nggak lama kemudian kami bersiap-siap meninggalkan pulau Handeuleum. Tujuan berikutnya adalah spot untuk canoing, menyusuri sungai yang tertutup rimbunan pepohonan sagu. 


Sebelum berangkat, ngasih makan rusa lagi
Selamat tinggal beautiful Handeuleum..
Kami naik kapal pukul 8 lewat. Menuju spot canoing jam 8.30an, diikuti perahu yang nanti akan kami pakai untuk menyusuri sungai. Tiba di lokasi pukul 8.50, kami turun dari kapal ke perahu. Dengan perahu kami menuju sungai yang tak jauh dari situ. Ada 2 orang bapak yang jadi pemandunya dan mengoperasikan motor di perahu tersebut. 

Judulnya aja canoing, hehe.. tapi yang kami naiki sebenarnya perahu panjang biasa. Bukan kano yang biasa dipakai perorangan. 

Sesampainya di sungai, motor dimatikan, dan kami mulai mendayung. Lagi-lagi amazing scenery hadir di depan mata. Pohon sagu yang menyemak di sepanjang sungai, dan pepohonan liar yang menjulang hingga menutupi langit di atas kami dan kadang menjuntai hingga ke tengah sungai, kesunyian yang menyelimuti, benar-benar bikin betah berlama-lama di sungai ini.


Mendayung perahu menyusuri sungai
Kupu-kupu macan, burung elang, dan berbagai satwa kecil tampak sesekali muncul di sela-sela pepohonan. Alhamdulillah nggak ada buaya di air, atau ular yang tiba-tiba bergelantungan di dahan pohon di atas kepala kami. Kalau ada, mungkin agak-agak panik juga ya, hehe..


Om dan tante pengen mejeng juga
Ketemu peserta canoing yang lain, namun jumlah mereka lebih sedikit. Say hello sambil nyengir-nyengir doang, karena salaman dan cipika cipiki kayaknya gak mungkin.. #yaiyalah


Row your boat Sir, if you see the crocs don't forget to scream!


Setelah puas canoing, kami kembali ke kapal. Waktu menunjukkan pukul 9.45.
Spot berikutnya lagi-lagi snorkling spot, hihihi.. ini rombongan yang bener-bener gila snorkling. Saya? Duduk manis aja di kapal sambil godain suami yang pengen ngudut sambil rebahan di air laut. #biniganjen


Santai di laut


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 dan kami pun bersiap-siap kembali ke desa Sumur. Yah, sebentar lagi berakhir sudah petualangan ini. Masih sempat makan siang di atas kapal sekali lagi sambil becanda-canda menikmati kebersamaan. Setelah makan, jam 12.30 kapal mulai jalan menuju pulau Jawa, alias desa Sumur. Saya milih tiduuur.. ngantuk bo.

Ternyata perjalanannya gak terlalu lama, jam 13.00 pulau Umang mulai terlihat. Jam 13.30 kapal berlabuh, kami lompat turun ke perahu, dan melanjutkan ke desa Sumur lagi. Istirahat sejenak di desa Sumur, bersih-bersih badan dan sholat, lalu naik Elf menuju ke Jakarta pukul 15.00. Selamat tinggal Ujung Kulon, pengalaman bersamamu tak kan pernah terlupakan.

Sempat berhenti beberapa kali untuk isi bensin, beli snack, dan makan malam, akhirnya pukul 22.00 kami tiba kembali di Jakarta. Alhamdulillah. Saya dan suami ngambil mobil di apartemen teman, dan kembali ke rumah dengan hati senang. Tiba di rumah jam 23.30, bersih2 badan, dan tiduuuuurr.. 

Makasih ya teman-teman seperjalanan yang luar biasa, EO keren Bang Andy dan Cindy, kakak beradik Fanny dan Rina, Arif yang sukses ngasih makan rusa pake bokong (hahaha.. bingung kan lu?), mbak Ponsen dan putri cantiknya Raira, teman-teman sekantor suami, Wati dan Mei, semoga kita bisa kumpul-kumpul lagi yaa di trip berikutnya. 


Happy!


Tuesday, October 8, 2013

THE CONJURING AND MY RECENT NEWS

Dua bulan lalu, tepatnya tgl 12 Agustus 2013, setelah dibujuk berhari-hari, akhirnya suami saya mau juga diajak nonton film yang konon jadi film terseram tahun ini. Ya kalo ceritanya sih menurut saya standar-standar aja, tapi mungkin karena diangkat dari kisah nyata, jadi sukses bikin yang nonton tambah jiper. Ngebayangin semua yang disajikan di depan mata sepanjang film itu dulu pernah benar-benar terjadi, memang bikin merinding dan agak sulit dipercaya. Kecuali buat sebagian orang kali ya, yang emang sering berurusan dengan mahluk-mahluk gaib.
#untunggakpunyasixthsense
#makasihdeh

Suami saya itu paling muales diajak nonton film horror. Dari awal nikah sampe sekarang, dia emoh banget. Horror di sini maksudnya film seram yang ada hantunya ya, kalo film seram tapi gak pake hantu, kayak thriller gitu, yang tokoh pembunuhnya masih manusia, bukan mahluk gaib, dia masih mau nonton (kadang-kadang).


Tapi saya curiga, sebenarnya film serem yg gak pake hantu pun kayaknya dia gak suka. Soalnya dari dulu saya ajakin nonton House Of Wax, yg jelas-jelas pembunuhnya tuh orang, dia gak mau nonton. Malah waktu akhirnya di suatu hari libur pas siang-siang cuacanya lagi adem, saya setelin film House Of Wax, dia protes. Saya bilang, "Kan pembunuhnya bukan hantu, pembunuhnya orang!" Tau gak dia bilang apa? "Ah, pembunuhnya hantu nih, aku tauu.. udah ah matiin, males liatnya!" Hehehehe.. bilang aja takut.

Ok balik ke The Conjuring. Maaf ya spoiler. Buat yang belum nonton dan gak mau imajinasinya rusak gara-gara tulisan saya, boleh udahan bacanya. Nontonlah dulu, baru balik lagi ke sini, lanjutin bacanya, hehehe..






Jadi kisahnya ada suami istri Perron dengan lima anak cewek yang cantik-cantik, pindah ke rumah tua yang berhasil mereka beli dengan kemampuan finansial mereka yang pas-pasan. Suaminya cuma supir truk, istrinya IRT. Rumah tua ini ternyata dulunya ditempatin Bathsheba, orang yg kelakuannya gak bener, karena nyembah setan. Dia belajar untuk jadi penyihir dan kepergok membunuh anaknya sendiri sebagai ritual persembahan kepada setan. Suaminya meninggalkannya dan karena didemo sama para penduduk, dia akhirnya gantung diri di pohon belakang rumah tersebut setelah sebelumnya mengutuk siapapun yang berani menempati tanahnya. Kejadian itu kurang lebih 2 abad yang lalu, dan tahun 1971 keluarga Perron menempati rumah tersebut. Karena banyak kejadian aneh , mereka pun minta bantuan paranormal untuk mengusir roh jahat dari rumah mereka. Dengan bantuan pasangan paranormal suami istri Warren, keluarga Perron jadi tahu sejarah rumah hantu tersebut dan keluarga-keluarga yang jadi korban setelah menempatinya.


Singkat cerita, ada beberapa adegan yang kayaknya membekas banget di ingatan suami saya.

Pertama, adegan yang nunjukin bahwa jam di rumah itu selalu mati di angka 03:07 dini hari. Di jam segitu juga biasanya para hantu di rumah itu beraksi.

Nah, suatu malam waktu saya dan suami lagi di Bandung, seperti biasa, tiap mau tidur kami pasti minum air putih segelas gede. Trus biasanya tengah malam suami terbangun karena pengen pipis. Kalo saya biasanya baru pipis pas mau sholat subuh. Malam itu suami terbangun, kebelet pipis dan langsung tertegun waktu ngeliat jam, 03.07. Hahahahahaha..

Kayaknya dia agak-agak dilema; pipis, nggak, pipis, nggak, pipis, nggak, pipis.. ya udah pipis aja deh. Tapi dengan kondisi pintu kamar gak ditutup, dan pintu kamar mandi juga gak ditutup. Setelah kelar, dia lari ke kamar, lumpat ke kasur, masup ke balik selimut.
#warkop-abiiiss

Pengalaman berikutnya, belum lama ini, tanggal 18 September 2013. Kali ini memang kejadiannya menyedihkan. Jam 04.00 subuh saya terbangun karena bunyi HP. Perasaan langsung ngga enak. Telepon dari Bandung, dari ibu mertua saya. Saya buru2 duduk, dan mengangkat telepon. Ibu mertua saya mengabari om Muchlis, omnya suami saya, meninggal mendadak, tanpa sakit apa-apa.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.. Saya syok dan menangis sesenggukan. Suami terbangun dan ketakutan, "Ada apa..? Sayang, ada apaaa..?" Saya jelasin sambil engap-engapan.

Saya cerita dulu tentang om Is, panggilan kami untuk almarhum. Beliau ini jasanya luar biasa besaaaar dalam membantu suami saya menyelesaikan pendidikannya. Bukan dari segi materil, tapi lebih dari segi moril.

Beliau adalah dosen UNISBA, dan seingat saya kerjaannya emang cuma bantuin orang melulu. Kayaknya gak ada deh orang yang bisa sebel sama orang sebaik beliau. Sampe ponakan-ponakan saya dan suami yang kecil kemrucil semua tergila-gila sama om Is. Kalo udah ketemu sama om Is, mereka bisa nempel kayak perangko. Bener-bener orang yang luar biasa. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terindah di sisiNya, amal jariyahnya insya Allah banyak, ilmu yang bermanfaat insya Allah juga banyaaaaak banget yang diwariskan untuk ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang pernah dididiknya. Dan dua orang anaknya, Bima dan Satria, dua orang anak yang soleh, insya Allah akan selalu mendoakan beliau, dan menjadi ladang amal beliau setelah kepergiannya.

Allahummagfirlahu warhamhu, wa'afihi wa'fu anhu.. (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah dia, lindungilah dia, dan maafkanlah dia..)

Hari itu juga setelah sholat subuh kami berangkat ke Bandung. Di jalan saya masih nangis sesekali. Suami diem aja sepanjang jalan. Pasti dia sedih banget. Tiba-tiba dia bilang, "Aku pas liat kamu duduk sambil nangis gelap-gelapan, ngomong sendiri, langsung inget The Conjuring.."
#kemudianhening
#laluketawa

Ternyata dia inget adegan si Christine, anak ketiga keluarga Perron di film The Conjuring. Jadi si Christine ini lagi tidur, tapi ada yang narik-narik kakinya. Tapi pas dia bangun, ternyata gak ada siapa-siapa. Trus dia nyium bau busuk, sampe nuduh-nuduh Nancy, kakaknya, yg tidur di ranjang sebelahnya yg kentut. "Lu kentut ya?" gitu.

Yang lebih horror lagi, waktu Christine liat seseorang berdiri di belakang pintu kamarnya. Melihat ada sosok menyeramkan di dalam ruangan yg remang-remang gitu, dia ampe ga bisa ngomong, cuma bisa sesenggukan nangis karena takuuuut..

Eeeaa.. Jadi om Deri pikir, saya ngeliat sosok menyeramkan ya? Trus ketakutan sampe nangis sesenggukan, gitu??

Dia bilang iya, karena pas melek, kok bininya nangis sambil ngeliat tembok, dan dalam hati langsung ngomong, "Oh, great, ada Conjuring di rumah gue.."

-----Bagoooooss-----

Saya lagi nangis + dia ngomong gitu = saya nangis sambil ketawa.

O iya, tulisan ini berawal gara-gara saya liat my bestie Dietra posting fotonya di depan rumah hantu La Piazza, dan saya jadi tergoda pengen ke situ.




Ini si Dietra lagi di depan Yurei Kanagawa, RS berhantu ala Jepang, di La Piazza


Kenapa bisa nyambung ke film The Conjuring? Karena gara-gara foto itu, saya jadi posting status berikut ini di FB.





Lalu berlanjut status ini.



 Selanjutnya, kejadian deh tulisan ini.. :)




Tuesday, September 17, 2013

THE VOW

Pemerhati film terutama para penggemar Channing Tatum pasti tau ini bukan film baru. Filmnya sendiri dirilis tahun 2012. Tapi saya pengen aja ngebahas film yang satu ini. Mungkin karena sisi romantis saya lagi ada di level agak tinggi minggu-minggu ini.  Bahkan rasanya lebih condong ke perasaan sentimentil, karena apapun yang bikin air mata menetes, mau itu film, lagu, berita, artikel, apapun pokoknya, yang membuat perasaan sedikit bergejolak dan membuat leher tercekat, rasanya ingin saya bagi rasakan juga pada orang-orang di sekitar saya, hehehe..

The Vow bercerita tentang sepasang suami istri muda yang crazy about each other. Mirip-mirip saya ama suami saya gitu deh.. #ditimpuk.

Suatu ketika mereka mengalami kecelakaan mobil sepulang nonton film di malam bersalju yang syahdu. Kecelakaan ini mengakibatkan sang istri, Paige (Rachel McAdams), mengalami amnesia dan sang suami, Leo (Channing Tatum), mengalami galau, hehehe.. Walaupun ada "amnesia"nya, jangan lantas berpikir kisah ini "sinetron banget" karena sama sekali nggak ada sinetron-sinetronnya. Sedihnya sih iya, kayak sinetron, tapi gak ada tokoh antagonis yang mendelik bengis dan senyum-senyum licik melihat si Paige kehilangan ingatan, tapi lalu panik karena Paige kejedot pintu dan tiba-tiba memorinya balik lagi. Nggak ada tuh.

Jadi pas di rumah sakit, waktu si Paige sadar setelah beberapa lama koma, dia gak ngenalin suaminya sama sekali. Tapi dia kenal ayah dan ibunya, mantan pacarnya, adiknya, teman-teman lamanya, pokoknya semua dia ingat kecuali kehidupannya 5 tahun terakhir. Padahal 5 tahun terakhir itulah masa-masa dia berkenalan dan menikah dengan Leo. Gimana gak galau coba si Aa Leo (bukan DiCaprio).

Ya kalo saya jadi si Paige mah ya, bangun-bangun ada Channing Tatum ngaku jadi suami saya, trus minimal dia nunjukin buku nikah aja, paling saya cuma tersipu-sipu sambil bilang, "masa sih, kamu ga boong kan?" abis itu gak ada pertanyaan lagi deh. Mari kita bikin anak. #eh.



Quote kayak gini bertebaran di internet setahun yang lalu, pas The Vow baru dirilis.

Serius lagi ah. Penolakan-penolakan Paige akan kehidupan yang gak dikenalinya itu dihadapi si Leo dengan tabah, atau lebih tepatnya ditabah-tabahin. Dikuat-kuatin. Karena, jangankan memeluk sang istri, disentuh dikit aja si Paige bisa langsung lompat. Ngobrol juga gak nyambung, apalagi bobo bareng. Nehi aja kata Paige. Gue gak kenal siapa elu. Tapi Leo terus melakukan pendekatan, berusaha mengajak Paige bertemu orang-orang terdekatnya selama 5 tahun terakhir, menunjukkan hasil karya seni patung buatan Paige yang indah-indah (tapi sama sekali gak nempel di memorinya). Paige bahkan gak tahu kalo dia seorang seniman. Yang dia tahu, dia adalah mahasiswi hukum.

Tapi pendekatan Leo yang penuh kesabaran itu akhirnya sia-sia, karena Paige memilih kembali ke ayah ibunya, dan memutuskan untuk bercerai dari Leo. Melihat Paige saat itu lebih bahagia bila hidup bersama kedua orang tuanya, maka Leo mengalah. Paige pada dasarnya memang berusaha untuk bisa membalas perhatian Leo, tapi ya gimanaaa, namanya orang gak kenal, tetap aja gak bisa-bisa biar dipaksain juga. Paige juga bingung, apa yang terjadi dalam 5 tahun terakhir, kenapa dia bisa menjauh dari ayah dan ibunya, kenapa dia bisa kenal Leo, yang berada jauh di luar lingkungan keluarganya, dan berasal dari strata yang berbeda. (O iya, si Leo yang yatim piatu ini adalah seorang musisi dan pemilik studio rekaman kecil). Karena jawabannya gak ada, dan dia merasa gak punya masalah sama keluarganya, pun ama Leo gak nyambung-nyambung, maka bercerailah mereka secara baik-baik.

Paige kembali mendaftar ke sekolah hukum, dan menjalani kehidupan lamanya yang "baru". Tapi dia akhirnya menemukan bahwa keluarganya menyimpan rahasia besar yang dulu mengakibatkan dia pergi dari rumah. Itu dia ketahui ketika bertemu dengan teman lamanya, Diane, yang selalu menghindar setiap kali bertemu dengannya atau keluarganya. Ternyata Diane pernah berselingkuh dengan ayah Paige (yup, Diane begituan sama bokapnya Paige, yaiks..), lalu ke-gep sama ibunya (ibunya Paige ya, bukan ibunya Diane, hehe.. gak penting). Dan itulah yang dulu menyebabkan Paige kabur dari rumah. Karena marah. Marah pada kelakuan ayahnya, marah pada sikap ibunya yang tetap menerima ayahnya dan memaafkan perselingkuhan itu. Marah pada lingkungan yang diam saja menerima kenyataan pahit itu, dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. 


Dan Paige bertambah kesal betapa keluarganya saat ini menutup-nutupi semua itu, apalagi ketika ia mengetahui salah satu alasannya adalah agar dia gak kembali ke pelukan Leo, yang status sosialnya berada jauh di bawah mereka.

Paige masih berusaha menjalani kembali kuliah hukumnya, tapi sementara dosen menjelaskan mata kuliah di depan kelas, Paige asyik sendiri membuat sketsa patung di bukunya, dan itu membuatnya terhenyak. Seperti kata Paige, "It's crazy that my hands remember what my mind forgot." 

Kisah pun seperti berulang lagi. Paige memutuskan untuk berhenti kuliah hukum dan masuk ke Art Institute untuk memperdalam seni. Dia kembali meninggalkan rumah, namun kali ini dengan hati yang lebih tenang dan berdamai dengan kekhilafan ayahnya. Perginya pun dengan pamit baik-baik ke keluarganya. Jodoh gak ke mana ya ternyata. Waktu sedang beres-beres file dan perlengkapan seninya, dia menemukan tulisan tangannya di atas brosur kafe tempat dia dan Leo sering nongkrong dulu, Cafe Mnemonic. Di situ tertulis coretan puisi (vow) yg akan diucapkannya saat menikahi Leo.

Walaupun sudah tidak tinggal bersama orang tuanya, Paige gak lantas pergi menemui Leo. Dia benar-benar menjalani hidup sendiri dari awal, mencoba menata kembali kehidupan seperti yang diinginkannya. 6 bulan setelah kembali memperdalam ilmu di institut seni, Paige pergi ke Cafe Mnemonic dan bertemu Leo di sana. Iya, iya, sampe sini emang sinetron banget. Tapi percayakah anda, kalau saya bilang ini adalah kisah nyata?

Yup, ini kisah nyata. Paige dan Leo akhirnya menikah lagi. Di akhir film ditampilkan foto asli pasangan ini, bersama dua anak mereka. So sweet. Paige memang tak pernah mendapatkan kembali ingatannya yang hilang. Tapi dia tetap kembali melewati jalan yang sama yang pernah ditempuhnya untuk bertemu sang suami, Leo.

Bagus banget yaaa tulisannya, eh kisahnya. Buat yang belum pernah nonton, film ini recommended. Nonton deh. Bisa bikin kita lebih menghargai kehidupan dan keajaiban-keajaiban yang ditawarkan di dalamnya. Buat yang udah pernah nonton, gak ada salahnya ditonton lagi. Buat yang gak terlalu suka, ya gak apa-apa sih, selera orang kan beda-beda hehe..

Karena filmnya bergenre drama romantis, jadi banyak gambar-gambar bagus yang bisa dinikmati sepanjang cerita. Ini di antaranya.


Keluar dari bioskop, liat yg kayak gini, bahkan si Paige yang dari bayi udah kenal salju aja bilang, "It's beautiful."

Cantik yaaa..


Pas baru nikah.
 

Karya seni cantik ini namanya Cloud Gate, letaknya di Millenium Park, Chicago, Illinois, USA. Keren gila!



Lagi bingung-bingungan, "Aa teh kudu kumaha ieu Neng?" tanya si Leo.



Paige lagi nonton rekaman pernikahan mereka.

Mau ngajak merit aja malu-malu, pake minta tolong ama pancake, hehe..


Kampusnya si Paige, sekaligus tempat nikah mereka.



OTW ke rumah mertua.

Weks, mertua gue tajir beud..!

Kamarnya asyiiik, padahal rumah mereka luarnya jelek loh.

Paige lagi berusaha menelusuri ingatannya.

Leo lagi curhat sama sahabatnya. "Bini gue gak mau gue pegang-pegang."

Gak tau ini nih maksa, atau emang beneran nama kafenya Mnemonic. Karena Mnemonic adalah semacam alat untuk membantu seseorang mengingat suatu kejadian, fakta, atau apapun yang berhubungan dengan memori.

Ini ending-nya, lagi-lagi salju.. gambarnya indah, bikin yang nonton jadi semriwing nyess.. (padahal di kamar lagi gerah :P)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...