Daisypath Anniversary Years Ticker
Showing posts with label Friendship. Show all posts
Showing posts with label Friendship. Show all posts

Wednesday, August 3, 2016

Tentang Dietra

Saya udah kayak orang gak inget punya blog nih hehe.. Blog tercinta dianggurin ampe kayak apa gak tau deh (kayak blog gak tercinta hihihi..)

Kenapa tau-tau saya nulis lagi? Jadi gini, nih gara-gara salah satu sobat saya Dietra Anandani bikin blog, terus dia bikin story tentang saya sampe 3 episode (dibikin mini seri bisalah yaa, kalo ada produser yang tertarik), seolah saya nih sejenis tokoh iconic yang kudu dikenal sama pembaca blognya dia, yang sepertinya adalah teman-temannya sendiri, dan menurut saya (kayaknya) mereka lumayan gaol.. Kesian kan sayaaa.. ntar kalo suatu saat tampaklah wujud asli saya di depan teman-temannya yang ikut baca di situ, terus mereka ngeliatin saya dari ujung kerudung sampe ujung sepatu.. bisa jadi dalam hati mereka komentar, "ooh, ini yang namanya Tita.. Oke deh kalo gitu." Lalu melengos males. Ya ampuun kesian sayaaa.. #nangis

O iya, di blognya, Dietra lebih banyak membahas masa kecil kami. Memang yang paling aman adalah menceritakan masa kecil. Saat masih sama-sama nggak ngerti banyak hal, tapi suka sok membahas banyak hal. --Btw Diet, gw bingung dulu waktu kecil kita ngobrolin apa aja sih?--

Tapi dengan membaca blognya, saya jadi tau seperti apa dunia masa kecil di mata Dietra Anandani ini. Seperti misalnya, mengapa dulu alm mama saya suka nyisirin rambut Dietra kalo pas dia main ke rumah saya, atau mengapa dulu Dietra seneng kalo diajak makan di rumah saya, mengapa dia cenderung nggak banyak omong di sekolah tapi yang naksir banyaaaakk (ya karena dia cakeplah Taaa.. orang cakep mah diem juga udah keliatan keles cakepnya), dan banyak kenapa-kenapa yang lainnya.

Cuuuuss yang mau liat boleh intip-intip blognya, purplehearteo.blogspot.co.id, saya famous loh di sana hihihi.. #dadahdadahalaselebriti

Saya banyak ngalamin kejadian lucu sama Dietra Anandani ini. Tapi berhubung kedewasaan membuat segala hal yang tadinya 'bodo amatlah ceritain aja, soalnya ini kocak banget' sekarang menjadi 'ini pantes nggak ya diceritain..' makaaa.. kayaknya saya kudu berhati-hati supaya gak kelepasan nulis anything sing ngisin-ngisini bu Dietra ini, hehehe..

Satu hal tentang masa kecil saya dan Dietra yang paling nempel di memori saya adalah saat-saat berangkat ke sekolah (waktu itu TK). Karena rumah kami di Sorong berada di daerah yang namanya Puncak Bahari (bukan sekedar nama, tapi emang ini puncak beneran) yang mana untuk berangkat sekolah kami harus jalan kaki turun dari puncak menuju ke jalan raya di bawah sana, setelah itu baru menyetop taksi menuju sekolah. Gaya yaaa, ke sekolah naik taksi.
Sebenarnya taksi yang kami maksud adalah angkot, tapi di kota tempat tinggal kami angkot disebut taksi. Dan memang di sana tak ada 'taksi' seperti taksi-taiksi pada umumnya yang mudah ditemui di kota besar.

Nah, saat berangkat sekolah, ada satu lagu yang hampir selalu kami nyanyikan. Ah, gak akan ketebak lah sama anak jaman sekarang, lagu apa yang kami nyanyikan dulu itu. Lagu anak-anak? Bukaaan, bukan lagunya Chicha Koeswoyo atau Adi Bing Slamet. Tapi justru yang kami nyanyikan adalah lagu KAKAKNYA Adi Bing Slamet, yaitu Uci Bing Slamet, hahahahahaha..
#ngakakmalemmalemampesuamigwhampirkebangun

Judulnya Bukit Berbunga.

#ketawalagisambilkaget 
#soalnyabarusanadabunyigeluduk

Jadi bayangkanlah 2 anak TK jalan kaki turun gunung sambil nyanyi Bukit Berbunga, yang menceritakan dua pasang muda mudi memadu cinta di sebuah bukit, halah.. Sementara mama saya berjalan mengikuti kami dari belakang, karena yah namanya juga anak TK, wajar kalo sekolah masih dianterin, ya kan.

Selain Bukit Berbunga, ada satu lagu lagi yang berkesan selama masa TK, Yaitu lagu yang diajarkan oleh guru TK Dietra semasa dia masih sekolah di Jogja. Yup, Dietra ini pindahan dari Jogja. Lagunya adalah lagu hymne atau apa ya sebutannya, pokoknya lagu tentang TK Persit di Jogja. Dietra mengajarkannya pada saya, dan saya suka sekali lagu tersebut. Sampai-sampai lagu itu masih nempeeel banget di otak saya sampe sekarang! Wkwkwkwkwk..

Tak ada yang memberitahu atau mengingatkan, tapi kami sadar, tak pantas menyanyikan Bukit Berbunga di sekolah, jadi kami menyanyikan lagu TK Persit. Mungkin Bu Min, guru kelas kami, hanya bisa geleng-geleng sambil mengelus dada tiap kali mendengar saya dan Dietra menyanyikan lagu TK Persit di TK Kuntum Harapan, sekolah kami hehehe.. Ya gimana, kan kami masih kecil, mana ngerti lagu TK lain gak boleh dinyanyiin di TK kami.

"Kami putra putri taman kanak-kanak, Persit Kartika Candra Kiranaaaaa..
Bermain dan belajar bersama, dengan hati yang riang gembiraaaa.."

Reff-nya nggak usah ya, kepanjangan. Atau disambung aja sama lagu Bukit Berbunga, gimana, setujuuu? #sokseleb

"Di bukit indah berbunga, kau membawa aku ke sana..
Memandang alam sekitarnya, karena senja tlah tibaaaa.."

Yang kemudian dengan kejamnya kami ganti liriknya dengan kata-kata seenak udel yang kami dengar dari teman-teman seumuran kami juga.

"Di bukit banyak penyakit, kau membawa ke rumah sakit..
Memandang suster-suster cantik, karena takut disuntiiiiik.."

OMG hahahahahahahha.. #kesianUciBingSlamet

Itu tadi memori TK. Memori SD lain lagi. Saya menyesal ketika saya konfirmasi ke Dietra, dia sudah lupa kejadian ini. Jadi saat itu kami kelas 5 atau 6, guru kami bu Sina** mengajarkan pelajaran bahasa indonesia. Kami disuruh membaca tulisan tentang permainan sepak bola yang dimainkan oleh orang-orang tuna netra.

Pause.

I know.

What on earth were they thinking??? Orang buta disuruh main bola? Tapi saya masih ingat memang tulisannya seperti itu. Jadi please stop asking..

Oke? Semua baik-baik saja? Saya lanjutkan ya? 

Yak, lanjooot..

Kami disuruh membaca dengan suara keras. Sampai tiba di bagian kalimat, "..tidak jarang para pemain saling bertubrukan." ‪#‎yaiyalah ‬‪#‎menurutngana‬?

Di sinilah kejadian aneh itu muncul. Bu Sina** berkata, "coba kalian bayangkan, pemain bola yg tuna netra saja bisa bermain tanpa bertubrukan satu sama lain.."

Yup. 

Silakan baca ulang kalimat di atas. Diulang sampai 50 kali atau lebih juga boleh. Saya gak salah nulis.

Saya dan Dietra saat itu saling pandang-pandangan. Lalu kami kasak kusuk sambil bisik-bisik. Dan bisik-bisik kami terlihat oleh bu Sina**. "Ada apa kalian?" Kami menjawab dengan penuh keyakinan tapi bercampur secuil rasa grogi.. ingat, kami anak SD tahun 80an yang sangat hormat dan kadang takut pada guru. Bukan anak jaman sekarang yang serba berani mengungkapkan pendapat. "Bu, itu maksudnya mereka bertubrukan."

"Maksudnya?"

"Maksudnya 'tidak jarang' itu ya 'sering', karena 'jarang' kan lawan katanya 'sering'."

"Apa yang kalian omongkan? Siapa yang sedang membahas tentang lawan kata di sini? Kita membahas tentang pemain bola tuna netra!" 

"Nggak Bu, coba Ibu baca lagi, itu kan maksudnya.."

"Siapa yang guru di sini? Kamu atau saya??"

Saya dan Dietra bengong. This teacher is unbelievable stupid.‪#‎pardonmylanguage‬

Laluuuu.. kami dicemooh teman sekelas. 
"Iyo ee.. ko guru ka?" 
"Ko lebih pintar dari Ibu ka?" 
Bla bla bla..

Saya bisa bayangin betapa bu Sina** merasa menang saat itu. Saya dan Dietra pun akhirnya memilih diam dan membiarkan rasa tak berdaya merajai hati kami. Sampai terbersit di otak saya, "Kalo udah besar, saya akan buktikan kalo Bu Guru itu salah!" Yah lagi-lagi maklumin otak anak SD tahun 80an. Untuk mencari kebenaran harus menunggu "kalo sudah besar" padahal sebenarnya tinggal bilang ke papa dan mama di rumah seperti anak-anak jaman sekarang, dan minta dibela di depan teman2 (dengan resiko dimusuhin teman satu sekolah karena cemen, bawa-bawa ortu hahahaha..)

Sayangnya, ketika kami "sudah besar" Dietra sudah lupa kejadian itu. #sebelgwamaloDit 
Jadi mari ucapkan goodbye, case closed. Tak kan ada yg percaya di dunia ini ada guru yg tak mengerti arti kata-kata "tidak jarang". Tak ada bukti, tak ada saksi. 

Yup. Like I said. Case closed.

SMP, Dietra hanya sempat sekelas dengan saya selama 1 semester. Dia masih tak banyak omong. Dan saya? Banyak omong huahahahahaha.. saya senang main ke rumahnya karena orang tuanya dua-duanya bekerja. Jadi rumahnya cenderung sepi, hingga saya tak perlu menjawab pertanyaan standar para ibu, "Udah makan belum?" "Mama lagi ngapain di rumah?" Atau kalau kami berlama-lama di kamar mandi untuk menangkap nyamuk, tak kan ada yg protes. Suwer itu nyamuk-nyamuk di Sorong paling gampang ditepok saat mereka sedang berkumpul di kamar mandi, hahahaha.. gak penting banget ya. 

Dietra punya banyak komik Donal Bebek dan komik Nina. Saya yang hobi baca betah berlama-lama di kamarnya. Dietra dan kakaknya berlangganan majalah Hai, dan saya jadi tau isi majalah selain majalah Bobo dan Ananda, dan Kartini dan Femina (apa sih). Yang saya takutkan hanya saat harus berpapasan dengan guguk-guguk peliharaan Dietra.

Ketika akhirnya dia pindah ke Jakarta melanjutkan SMP-nya, saya menitikkan air mata sedih. Saya merasa kehilangan. Namun syukur alhamdulillah kami masih terus keep contact walau telah berjauhan. Surat menyurat jaman itu jadi media penyambung kabar. Walaupun Dietra kalo bales surat ampun dah, lamanyaaa.. Tapi saya maklum, dia udh jadi anak ibukota. Apalagi ketika kemudian dia muncul di tv, tampil sebagai cheerleader di acara olahraga minggu siang. Saya lompat2 kegirangan, ortu saya pun ikut senang melihatnya. Kelak dia makin sering muncul di berbagai acara tv, seperti kuis, sinetron, dan reality show. Saya pernah ikut nganterin dia ke RCTI untuk syuting salah satu kuis. 

O iya, ada satu keunikan yang kami miliki. Kami sama-sama punya adik ketika usia kami 7 tahun. Jadi, usia saya dan Dietra sama, usia adiknya dan adik saya pun sama. Dietra lebih tua 3 bulan dari saya, dan adik Dietra lebih tua 3 bulan dari adik saya. Dietra mendapat adik ketika usianya 7 tahun 3 bulan, begitupun saya, adik saya lahir ketika usia saya 7 tahun 3 bulan. Dan Dietra selalu ingat ultah saya, karena adiknya lahir tepat sehari sebelum hari lahir saya. What a beautiful scenario from God! There's no such thing as coinsidence, right? Only God scenario. Whatever the reason behind that. ‪#‎amazing‬

Kira-kira itu memori masa kecil saya dengan Dietra Anandani. Kami masih berteman hingga sekarang, thru thick and thin. 

Friends come and go, like the waves of the ocean. But the true ones stay, like an octopus on your face. LOL

Eits, mumpung ingat, satu lagi kenangan yg untuk saya aneh tapi benar-benar nyata adanya. Saat itu di suatu siang saya main ke rumahnya. Seperti biasa, rumahnya sepi dan saya temui dia sedang mencuci sepatu sekolah di dekat baik air belakang rumahnya. Sepatunya mirip sepatu saya, karena kami selalu bersepatu keds ke sekolah. Tau kalimat apa yg dia ucapkan? 

"Kamu nggak pernah cuci sepatu kan?" Saya menggeleng. Karena sepatu saya selalu dicucikan mama. "Cobalah sekali-sekali. Saya bukan mengiming-imingi. Tapi cuci sepatu itu enak sekali."

Bhuahahahahahaha.. anak yang aneh.

Ok, sekian cerita saya tentang Dietra. Si tomboi pemalu yang kini menjelma jadi wanita cantik penuh percaya diri. Dia juga seorang istri dan ibu yang penyayang (anaknya 2), wanita karir yang luar biasa, entrepreneur, dan beberapa tahun lalu berhasil menyelesaikan pendidikan S2 di sela-sela kesibukannya. So proud of her. My bestie, my kakak, my octopus.





Tuesday, October 8, 2013

THE CONJURING AND MY RECENT NEWS

Dua bulan lalu, tepatnya tgl 12 Agustus 2013, setelah dibujuk berhari-hari, akhirnya suami saya mau juga diajak nonton film yang konon jadi film terseram tahun ini. Ya kalo ceritanya sih menurut saya standar-standar aja, tapi mungkin karena diangkat dari kisah nyata, jadi sukses bikin yang nonton tambah jiper. Ngebayangin semua yang disajikan di depan mata sepanjang film itu dulu pernah benar-benar terjadi, memang bikin merinding dan agak sulit dipercaya. Kecuali buat sebagian orang kali ya, yang emang sering berurusan dengan mahluk-mahluk gaib.
#untunggakpunyasixthsense
#makasihdeh

Suami saya itu paling muales diajak nonton film horror. Dari awal nikah sampe sekarang, dia emoh banget. Horror di sini maksudnya film seram yang ada hantunya ya, kalo film seram tapi gak pake hantu, kayak thriller gitu, yang tokoh pembunuhnya masih manusia, bukan mahluk gaib, dia masih mau nonton (kadang-kadang).


Tapi saya curiga, sebenarnya film serem yg gak pake hantu pun kayaknya dia gak suka. Soalnya dari dulu saya ajakin nonton House Of Wax, yg jelas-jelas pembunuhnya tuh orang, dia gak mau nonton. Malah waktu akhirnya di suatu hari libur pas siang-siang cuacanya lagi adem, saya setelin film House Of Wax, dia protes. Saya bilang, "Kan pembunuhnya bukan hantu, pembunuhnya orang!" Tau gak dia bilang apa? "Ah, pembunuhnya hantu nih, aku tauu.. udah ah matiin, males liatnya!" Hehehehe.. bilang aja takut.

Ok balik ke The Conjuring. Maaf ya spoiler. Buat yang belum nonton dan gak mau imajinasinya rusak gara-gara tulisan saya, boleh udahan bacanya. Nontonlah dulu, baru balik lagi ke sini, lanjutin bacanya, hehehe..






Jadi kisahnya ada suami istri Perron dengan lima anak cewek yang cantik-cantik, pindah ke rumah tua yang berhasil mereka beli dengan kemampuan finansial mereka yang pas-pasan. Suaminya cuma supir truk, istrinya IRT. Rumah tua ini ternyata dulunya ditempatin Bathsheba, orang yg kelakuannya gak bener, karena nyembah setan. Dia belajar untuk jadi penyihir dan kepergok membunuh anaknya sendiri sebagai ritual persembahan kepada setan. Suaminya meninggalkannya dan karena didemo sama para penduduk, dia akhirnya gantung diri di pohon belakang rumah tersebut setelah sebelumnya mengutuk siapapun yang berani menempati tanahnya. Kejadian itu kurang lebih 2 abad yang lalu, dan tahun 1971 keluarga Perron menempati rumah tersebut. Karena banyak kejadian aneh , mereka pun minta bantuan paranormal untuk mengusir roh jahat dari rumah mereka. Dengan bantuan pasangan paranormal suami istri Warren, keluarga Perron jadi tahu sejarah rumah hantu tersebut dan keluarga-keluarga yang jadi korban setelah menempatinya.


Singkat cerita, ada beberapa adegan yang kayaknya membekas banget di ingatan suami saya.

Pertama, adegan yang nunjukin bahwa jam di rumah itu selalu mati di angka 03:07 dini hari. Di jam segitu juga biasanya para hantu di rumah itu beraksi.

Nah, suatu malam waktu saya dan suami lagi di Bandung, seperti biasa, tiap mau tidur kami pasti minum air putih segelas gede. Trus biasanya tengah malam suami terbangun karena pengen pipis. Kalo saya biasanya baru pipis pas mau sholat subuh. Malam itu suami terbangun, kebelet pipis dan langsung tertegun waktu ngeliat jam, 03.07. Hahahahahaha..

Kayaknya dia agak-agak dilema; pipis, nggak, pipis, nggak, pipis, nggak, pipis.. ya udah pipis aja deh. Tapi dengan kondisi pintu kamar gak ditutup, dan pintu kamar mandi juga gak ditutup. Setelah kelar, dia lari ke kamar, lumpat ke kasur, masup ke balik selimut.
#warkop-abiiiss

Pengalaman berikutnya, belum lama ini, tanggal 18 September 2013. Kali ini memang kejadiannya menyedihkan. Jam 04.00 subuh saya terbangun karena bunyi HP. Perasaan langsung ngga enak. Telepon dari Bandung, dari ibu mertua saya. Saya buru2 duduk, dan mengangkat telepon. Ibu mertua saya mengabari om Muchlis, omnya suami saya, meninggal mendadak, tanpa sakit apa-apa.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.. Saya syok dan menangis sesenggukan. Suami terbangun dan ketakutan, "Ada apa..? Sayang, ada apaaa..?" Saya jelasin sambil engap-engapan.

Saya cerita dulu tentang om Is, panggilan kami untuk almarhum. Beliau ini jasanya luar biasa besaaaar dalam membantu suami saya menyelesaikan pendidikannya. Bukan dari segi materil, tapi lebih dari segi moril.

Beliau adalah dosen UNISBA, dan seingat saya kerjaannya emang cuma bantuin orang melulu. Kayaknya gak ada deh orang yang bisa sebel sama orang sebaik beliau. Sampe ponakan-ponakan saya dan suami yang kecil kemrucil semua tergila-gila sama om Is. Kalo udah ketemu sama om Is, mereka bisa nempel kayak perangko. Bener-bener orang yang luar biasa. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terindah di sisiNya, amal jariyahnya insya Allah banyak, ilmu yang bermanfaat insya Allah juga banyaaaaak banget yang diwariskan untuk ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang pernah dididiknya. Dan dua orang anaknya, Bima dan Satria, dua orang anak yang soleh, insya Allah akan selalu mendoakan beliau, dan menjadi ladang amal beliau setelah kepergiannya.

Allahummagfirlahu warhamhu, wa'afihi wa'fu anhu.. (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah dia, lindungilah dia, dan maafkanlah dia..)

Hari itu juga setelah sholat subuh kami berangkat ke Bandung. Di jalan saya masih nangis sesekali. Suami diem aja sepanjang jalan. Pasti dia sedih banget. Tiba-tiba dia bilang, "Aku pas liat kamu duduk sambil nangis gelap-gelapan, ngomong sendiri, langsung inget The Conjuring.."
#kemudianhening
#laluketawa

Ternyata dia inget adegan si Christine, anak ketiga keluarga Perron di film The Conjuring. Jadi si Christine ini lagi tidur, tapi ada yang narik-narik kakinya. Tapi pas dia bangun, ternyata gak ada siapa-siapa. Trus dia nyium bau busuk, sampe nuduh-nuduh Nancy, kakaknya, yg tidur di ranjang sebelahnya yg kentut. "Lu kentut ya?" gitu.

Yang lebih horror lagi, waktu Christine liat seseorang berdiri di belakang pintu kamarnya. Melihat ada sosok menyeramkan di dalam ruangan yg remang-remang gitu, dia ampe ga bisa ngomong, cuma bisa sesenggukan nangis karena takuuuut..

Eeeaa.. Jadi om Deri pikir, saya ngeliat sosok menyeramkan ya? Trus ketakutan sampe nangis sesenggukan, gitu??

Dia bilang iya, karena pas melek, kok bininya nangis sambil ngeliat tembok, dan dalam hati langsung ngomong, "Oh, great, ada Conjuring di rumah gue.."

-----Bagoooooss-----

Saya lagi nangis + dia ngomong gitu = saya nangis sambil ketawa.

O iya, tulisan ini berawal gara-gara saya liat my bestie Dietra posting fotonya di depan rumah hantu La Piazza, dan saya jadi tergoda pengen ke situ.




Ini si Dietra lagi di depan Yurei Kanagawa, RS berhantu ala Jepang, di La Piazza


Kenapa bisa nyambung ke film The Conjuring? Karena gara-gara foto itu, saya jadi posting status berikut ini di FB.





Lalu berlanjut status ini.



 Selanjutnya, kejadian deh tulisan ini.. :)




Sunday, June 2, 2013

(BUKAN) NAMA BIASA


Iseng ah nulis.. Makin ke sini nama anak makin kece-kece dan njelimet. Coba liat angkatan kita. And by that, I mean we who were born in 70'an or 80'an. Nama-nama 'sederhana' kayak Dewi, Reni, Rina, Dian, Lia, Yanti, Sari, Indah, Wati, Santi, Mira, Ana, Yuli, itu banyak banget. Makanya dulu tuh kalo ada yang namanya unik rasanya bangga sendiri. Kayak gw gini, hehehe..

Ya kan nama Tita itu nggak terlalu pasaran. Nama aslipun (Syarah tanpa embel-embel Yunita karena Yunitanya pasaran) waktu itu jarang ada yang pake. Syarah ya, bukan Sarah.

Tapii, nggak ada yang ngalahin nama temen gw, Dietra Anandani. Belum pernah gw kenal orang bernama Dietra lagi selain dia. Yang asik nih, kalo lagi jalan rame-rame jaman dulu, kita suka ngebahas, kalo digodain cowo-cowo nongkrong, pasti cuma si Dietra ini yang gak ketebak namanya buat dipanggil-panggil (apa sih.. bahasan gak penting yak haha..) Contohnya, temen2 kita kayak si Lia, Dewi, Reni, itu pasti gampang banget ketebak, jadi bisa aja tau-tau mereka para nongkrongers itu nyeletuk, "hai Dewi.." secara random, dan beneran yang namanya Dewi itu ada di antara kita. Amat susah sekali nemuin orang yang mikir ada manusia bernama Dietra di dunia ini, hihihi..

Si Dietra ini (dibaca Ditra) bahkan pernah iseng nge-search namanya sendiri di google dan kebanyakan orang-orang yang didapatkan bernama mirip namanya adalah warga India, dan bukan bernama Dietra/Ditra, melainkan.. "Anand", huaahahahahha.. (tinggal tambahin brewok dan Krishna).

Suatu hari gw ngobrol ama dia lewat Whatsapp, lagi-lagi ngebahas namanya yang unik itu dan dia bilang, dia nemu orang bernama sama di ITC Kuningan. Sama-sama lagi cari sepatu dan.. anak laki-laki! Ketauan gara-gara ada nenek-nenek manggil, "Dietra!", pas dia nengok, tu anak nyamperin neneknya. Hahahaha.. horeee, kata gw dalam hati, "you're not the only one anymore!"

Trus di Dietra ini melanjutkan, di Jerman juga ada artis yang namanya Dietra. Well, berarti kan udah ada dua ya yang dia temuin. Tapi dia tetap keukeuh kalo  namanya itu langka. Halah..

Makanya gw ngakak sampe pala gw muter-muter waktu nemu toko, atau lebih tepatnya warung, bernama DITRA. Gw sedikit melakukan analisa. Kayaknya yang punya warung tuh anaknya kembar. Jadi lengkapnya, nama warungnya adalah ini:
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...




Jadi, kesimpulannya, setidaknya di dunia ini ada:
DIETRA YANG ANAK LAKI-LAKI,
DIETRA YANG ARTIS JERMAN,
DIETRA TEMEN GW YANG WAKTU KECIL MUKANYA KAYAK GEMBALA SAPI DI BUKU-BUKU DONGENG (sorry Dit..),
dan ada..
DITRA KEMBARANNYA DITRI.

huahahahahahahahaha.. *ngakak sampe bulan depan*


Dit, udah gw tunaikan ya janji gw, hahahaha.. selamat menikmati foto yang mengakibatkan kita ngobrol kocak malam itu di watsap.

O iya, percobaan motret warung ini mengalami beberapa kali kegagalan. Karena percobaan pertama dan kedua dilakukan dari dalam mobil yang sedang melaju perlahan. Dan suami gw menolak untuk berhenti sejenak, qeqeqeqeq..

Percobaan Pertama

Percobaan Kedua

Baru di kali ketiga gw sukses motret ni warung. Itu juga pake acara ngerayu suami gw biar mobil berenti dulu di seberang jalan dan ngumpet-ngumpet motret karena takut diomelin yang punya warung. Jadi foto-foto ini diambil di hari yang berbeza. Hahahaha.. niat banget dah gueeeh.. Enjoy your 'toko' ya Dietra Anandani!






Tuesday, September 15, 2009

BUKBER, MOMENT NOSTALGIA :D


Lagi-lagi reunian. Seneeeeeng banget kalo moment ini udah dateng. Karena ramenya beda, nggak seperti ngumpul-ngumpul bareng temen yang ketemunya udah gede. Kalau reuni bareng temen masa kecil, ada kesan tersendiri karena gue tau tampang mereka waktu masih kanak-kanak, waktu masih keringetan dan bau matahari, waktu pipinya masih pada tembem dan muka bayi-nya masih belum hilang termakan usia.. Sigh, kadang ada rasa terharu juga ya mikir betapa umur bisa bikin kita keliatan berbeda (walaupun emang nggak berlaku buat sebagian orang yang mukanya dari dulu gitu-gitu aja, bersyukurlah kalian yang wajahnya awet muda hehe..) 

Gue jalan bareng suami jam 2 siang. Sampe Ratu Plaza jam 3, kita muter-muter dulu, ada yang mau dicari. Sempet ketemu sales yang ngajak maen undian kecil-kecilan dan katanya gue menang kompor listrik gitu. Aduh, males banget. Tapi pas tau harga kompor listriknya 9 jutaan, ya ngeces juga donk hahaha... Ternyata emang modusnya dari dulu gitu yaaa, bisa dapet kompor listrik trus ada bonus alat pelangsing perut seharga 5 juta, tapi syaratnya belanja satu barang senilai 4,9 juta.. mereka milihin panci presto. Hiks.. maaf ya mas, kita punya skala prioritas dan kebetulan panci presto belum masuk dalam skala prio kita. Jadi gagal deh marketing mereka, hehe.. 


Sampe Plaza Senayan, langsung naik ke lantai 2 menuju Bakerzin. Di sana udah ada Lucky, (the Event Organizer hehe..) ada Ari Joko (teman SMP gue yang udah bertahun-tahun nggak ketemu) bareng istrinya. Sempet mewek dikit saat gue pelukan ama si Lucky. Terbayang lagi wajah sang adik, Dian Widodo yang baru meninggal kurang lebih sebulan yang lalu. Semoga almarhum tenang di sisi Allah SWT.


Karena belum sholat, gue dan suami sholat Ashar dulu. Deket mushola suami gue ketemu teman-teman yang lain. Pertama Aan tiba sorangan. Terus ketemu Shinta bareng anak dan suami. Lalu Dietra dan rombongan dateng. Gue sih masih sholat. Trus kita ketemu Dewi Rachma & pasangannya. Cipika cipiki, trus gue ngasih tau kalo anak-anak udah pada ngumpul. Baru deh gue dan suami bergabung lagi di Bakerzin. Udah ada Heintje yang juga dateng sendiri kayak Aan. Nggak lama dateng Sohir bareng istri dan anak, juga Adan si penganten baru, bersama sang istri.



Dietra


Ki-Ka: suami gue, gue, suami Shinta, Shinta, Aan, Ari Joko, istri Ari Joko, Dewi, Heintje



Sohir dan istri
Btw, sedikit penjelasan nih:
Temen SD gue ---> Lucky, Dietra, Aan, Adan.

Temen SMP ---> Lucky, Dietra, Aan, Adan, Ari Joko, Shinta, Dewi, Sohir, Heintje.


Mulai deh haha hihi, ledek-ledekan, dan foto-foto tentunya. Lucky menjelaskan ke kita semua, terutama buat yang baru pertama kali ikutan bukber, bahwa tradisi bukber kayak gini udah mulai ada sejak orang pertama kali berpuasa jaman kita kuliah. Teman-teman yang merantau kuliah di Jakarta sepakat mengadakan acara bukber rutin, tapi ternyata nggak segampang itu menjalin komunikasi dengan teman-teman kita. Untuk itu dia kita pengen ini rutin diadain tiap tahun.
Lalu ada sesi perkenalan segala, satu persatu hahaha ade-ade aje.. Maksudnya biar yang udah mulai lupa jadi inget lagi, seperti, "OooO.. iya, ini kan si anu yang dulu suka anu.." plus aktifitas masing-masing kita sekarang. Seru juga.

Lucky ngusulin, suatu saat kayanya seru kalo kita traveling ke Sorong rame-rame naik kapal. Hmm.. buka puasa aja yang dateng cuma 15 orang buuu.. itu juga udah termasuk pasangan, hehehe.. jadi kita berdelapan cuma iya-iya aja biar nggak panjang ngebahasnya, hehe..


Setelah sholat maghrib, ada yang langsung pulang, ada juga yang balik lagi ke Bakerzin. Mulai deh bongkar-bongkar cerita jaman dulu. Ada cerita Ari yang jaman dulu suka nyanyi bareng Himawan di kelas tapi pelan-pelan banget takut ketauan yang lain. Ari yang nyanyi, Himawan yang maen gendang (properti gendangnya diganti pake meja yang dipukul-pukul, tentu mukulnya pelan-pelan juga hehe..). Ada cerita Lucky yang sering berantem ama gue, ada cerita Adan yang dulu dijulukin Poro Naga (perut naga) karena kalo nulis namanya di buku tulis selalu Ramadhan PN. Ada Aan yang dulu sering gue cubitin ampe biru-biru (maafkan daku, An..), trus ada Hence yang waktu itu baru pindah dari Ambon dan ditaksir sama cewek kelas sebelah. Juga jaman teman-teman ikutan ekskul PKS, trus nggak lupa diselingin mop/anekdot sebagaimana orang Papua kalo lagi pada ngumpul. Ngomongin guru-guru (maaf ya bu, pak..). Sambil diselipin
kejadian-kejadian jaman sekarang yang dominan pake nyebut-nyebut, "tau dari fesbuk nih.." hahaha...

Thanks to facebook! bener-bener bank data yang menakjubkan!




Ki-Ka: (berdiri) Ari Joko, Heintje, Aan, Adan, (duduk) gue, Lucky, istrinya Adan, istrinya Ari Joko
Pukul 8 lewat, setelah foto-foto (lagi!) kita pun membubarkan diri sambil berjanji akan sering-sering ngadain acara kayak gini lagi. Seruuu..!!!

Friday, June 26, 2009

ON MY BIRTHDAY

25 Juni 2009.

Alhamdulillah, tahun ini ngerasain lagi ulang tahun.. berkurang lagi setahun usia.. semoga makin sadar bahwa tiada nikmat yang lebih besar dari nikmat iman yang selama ini telah Allah berikan pada hambaNya ini..


Ulang tahun kali ini gue cuma mau ngisi blog gue dengan ucapan terima kasih. And all my thanks go to the people below:

Makasih buat Mama yang udah ngelahirin gue.. segala kasih sayang, tenaga, doa, dan air mata yang telah beliau curahkan dalam membesarkan gue nggak akan pernah sanggup gue gantiin dengan apapun.. I knew it but sometimes being stubborn was something I couldn't refuse.. Forgive me Ma..

Makasih buat Papa yang udah banyak banget kesusahan juga gara-gara anaknya ini, hehehe.. peace Pa.. Nggak tau kalo sama bokap gue, gue suka susah mau mellow, mungkin karena beliau ngelawak mulu tiap hari yah.. But still, I need his apology for all my faults, for all stupid things I've done, for his patient and understanding thru these years.. Tanggal 24 Juni 2009 (sehari sebelum gue ultah), beliau kembali harus berangkat ke Sulawesi Utara untuk bekerja. Doa beliau lewat sms bikin gue merinding dan pengen mewek.. hiks..

Makasih buat bang Deri, my deepest love, my future children's dad, my savior, my other half.. the first person who congrats me every year on my birthday.. makasiiiih banget udah sabar dalam membimbing gue yang sulit diatur ini, you still don't know how much this feeling for you. Well, this is the clue, it's just like.. I will love you 'til the day I die (seizin Allah tentunya ya sayang) how about that? hehe.. jangan bengong gitu dong ah, ini serius bang! Hehe, bikin anak yuk.. :D

Makasih buat teman-teman masa kecil dan masa ABG hehe.. yang bermunculan di facebook dan bikin hari-hari gue tersita di depan komputer.. Bahkan ade gue pun yang jelas-jelas tinggal serumah ama gue ngucapinnya lewat facebook, ampun deh! Thanks buat teman-teman gue yang ucapannya bikin gue kelelahan membalas satu-satu, sampe jari-jari gue pada gemeteran, tapi gak papa.. emang gue udah niat harus balesin satu-satu! Just like sms.. (kayaknya sms nih yang jadi penyebab jari gue gemeteran.. kan ngetiknya lebih susah hehehe..)

Makasih buat sodara-sodara gue yang udah nyempetin sms dan nelpon.. Having you all as relatives was quite a blessing I happily received.

But most of all, back to the biggest one, I thank my Lord, Allah Swt untuk setiap helaan nafas dan keberkahan usia.. Alhamdulillahirabbil'alamiin..

Friday, May 15, 2009

MARKETING

Tadi pagi ngobrol-ngobrol sama teman lama di YM. Tadinya ngobrol ngalor ngidul, lama-lama jadi ngobrolin kerjaan. Just FYI, gue dan dia sama-sama demen marketing dan kebetulan ladang rejekinya di situ, hehe..

Gue : Lu masih suka karaoke jeng?

Dia : Sayang suara sekarang bu... Kadang suara pas kerja suka abis.

Gue : Huahaha.. kayak gue sekarang, suara gue udah hampir seminggu hilang. Dipikir-pikir, nggak cuma penyanyi aja ya jeng yg modal suara, marketing kayak kita juga sama.. perasaan gue ngomong standar-standar aja deh, ngga tereak-tereak.. tapi ternyata tetep bisa ilang juga ya..

Dia : Hehehe.. ember.. Kadang-kadang kalo lagi nelpon klien, suara gue pernah ilang.

Gue : Hahahah... trus gimana tuh, binun dong orang yang diajak ngomse

Dia : Gue minta maaf, gue mute telpon..... gue minum dan batuk. Sukurnya kok ya closing hahahah.. kesian kale yaa

Gue : Hyaaaah .. apa gue kudu akting batuk juga ya kalo lagi ngomse ama prospek??

Dia : Jangan kalo lu mah.. ntar kata mereka malah, "ogah gue diprospekin orang penyakitan" hahahahah..

*Obrolan ngga penting dua orang yang lagi ngejar target*

Tuesday, May 12, 2009

MENJARING PARTNER, MENJARING TEMAN


Di film The Goodfather, kalimat sakti mereka adalah, "It's not personal, it's business." Artinya kurang lebih, kalau sedang berbisnis nggak usah mikirin perasaan, pikirin bahwa ini bisnis, ladang uang, bukan ladang pertemanan. Do whatever you need to do. Forget the consequences of hurting someone's heart, coz if you do so, you just drop yourself into such a wrong way..

Ngeri amat ya kalau itu diterapkan di bisnis yang gue jalankan.


Walau sambil ngakak-ngakak nyeritain ke saudara-saudara di Bandung betapa gue getoool banget ngajakin orang-orang yang gue kenal untuk bergabung di bisnis yang sedang gue jalanin ini, gue punya misi untuk membantu mereka yang :

- stuck sama kerjaan di kantor

- pengen bisnis dengan modal kecil

- pengen punya tambahan usaha di luar usaha yang mungkin sudah mulai mereka rintis sekarang.

- belum dapet kerja

- nggak ada kegiatan tapi dapet sokongan (baik dari ortu maupun suami) dan ingin punya penghasilan sendiri

- masih buta MLM dan takut memulai

- kapok MLM karena katanya susah dijalankan (not in my business!)

- punya keinginan besar untuk bisa bersedekah nggak sekedar pake duit seribu-dua ribu atau koin kembalian belanja :(

- dan lain-lain yang saat gue nulis belum kepikiran.

selain tentunya yang mereka nggak sadar adalah bisnis ini bisa mempererat silaturahmi. Contoh gampangnya, teman yang gue rekrut rata-rata adalah teman lama yang cuma ketemuan kalau ada teman kawin atau teman meninggal.. Serem kan? Alasannya karena memang kalau ketemuan juga nggak ada yang bisa dibahas selain obrolan nostalgia yang pasti kalau diceritain terus lama-lama membosankan juga.. hiks..

Masa gara-gara nggak ada bahan obrolan jadi males ketemu teman? Please.. use your logical brain to make a deep thinking.. ini juga mungkin yang membuat kita makin tua makin berasa sendiri dan kesepian.


Di bisnis gue, insya Allah itu semua jauh deh. Pertemanan jadi lebih terasa indahnya, karena teman lama jadi akrab lagi, teman baru jadi nambah. Phonebook HP gue yang tadinya isinya cuma itu-itu aja, sekarang tiap bulan bisa nambah at least 3-5 nama baru. Which means, every name brings me another possibility to make my business getting bigger. Mungkin ada yang nanya, gimana kalo udah nggak bisnisan bareng lagi? Berarti salah satu ada yang nggak menjalankan rules yang udah disepakati bersama dan insya Allah itu bukan gue, tapi don't worry, pertemanan akan tetap jalan kecuali yang bersangkutan menolak untuk gue temui lagi, hehe..

Biasanya ini yang gue terima sebagai jawaban:

"Ntar ya Sar, gue pikir-pikir dulu.."

Silahkan.. tapi tolong, jangan takut gue bakal bikin lu bikin melarat, karena bisnis gue bisnis yang hanya bermodal 40 ribu. Hmm, masa sih lu jalan-jalan ke mall beli baju, beli sepatu, beli makanan bisa abis 200 ribu - 1 juta dalam sehari tapi ngeluarin modal 40 ribu aja mikirnya setahun?

"Gue nggak bakat ngomong.."

Kalau lu bilang lu nggak bakat nyanyi, nggak bakat melukis, nggak bakat menari, baru deh gue percaya. Tapi nggak bakat ngomong, nggak bakat berteman, nggak bakat cari duit? Oh my God, sedih amat hidup lu ya.. Bisa jadi kalau ngumpul ama teman kerjaan lu cuma jadi pelengkap yang ikutan ketawa kalo ada yang becanda, ikutan ngangguk-ngangguk kalo ada yang lagi ngobrol, ikutan ngelap-ngelap airmata kalo ada yang berduka. Definetely not the kind of friend that everybody's looking for. Sama sekali bukan tipe teman yang gampang gue ingat.

"Duitnya paling nggak seberapa ah.."

Hehe.. niat gue baik tauu.. karena justru gue mau ngajak teman-teman jadi OKB (Orang Kaya Bareng). Justru di sini lu dapet penghasilan, dapet keleluasaan waktu, dan dapet teman baru, friends with benefit. Ayo dong.. lu seharian bisa nongkrongin fesbuk, nanggepin ocehan teman-teman lu, blogwalking dan ninggalin komen di sana-sini, tapi nggak menghasilkan uang walau cuma 100 perak? Yuk, buka pikiran lu menjadi orang yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Tulis komen dan hasilkan uang, berteman dan hasilkan uang, jelajahi dunia maya dan hasilkan uang, sms teman dan hasilkan uang, telpon teman dan hasilkan uang. Lalu lihatlah "duit ngga seberapa" yang lu bilang tadi.

"Uang bukan segalanya Sar, ada yang lebih penting dari sekedar mengejar dunia.."

Oke, ingatlah kata-kata lu di atas saat anak lu sakit dan butuh dirawat selama seminggu di rumah sakit dan biaya perharinya minimal 100 ribu, obatnya minimal 500 ribu, total dan lihatlah.. lu harus mengeluarkan paling tidak 1,2 juta dalam seminggu, belum termasuk uang makan saat menjaga si kecil dan transportasi bolak balik yang harus lu keluarkan dan itu terpaksa lu lakukan dengan memakai anggaran belanja rumah tangga lu.

Ingatlah kata-kata lu di atas saat nyokap ulang tahun dan lu ingin ngasih gelang emas tapi terpaksa harus 'mengganggu' uang belanja dari suami, atau uang gaji yang lu tabung untuk umroh..


Ingatlah kata-kata lu di atas saat lu lihat orang tua yang ingin lu bahagiakan terpaksa harus menjalani masa tuanya hanya dengan dana pensiun (kalau ada!) sementara lu sendiri nggak punya dana tambahan untuk membahagiakan mereka.

Lalu.. kapan lu mulai berpikir untuk bersedekah di luar kewajiban lu yang 2,5% (untuk muslim)?

Ingatlah kata-kata lu di atas..

Uang bukan segalanya, tapi tanpa uang lu nggak bisa melakukan segalanya. Senyum adalah sedekah, gue percaya itu. Silakan beri senyuman lu untuk bersedekah, tapi cobalah untuk tersenyum saat melihat berbagai tagihan dan kebutuhan yang harus lu tanggung dalam hidup..

Pikirkanlah..

Gue hanya ingin membuka jalan. Keputusan sepenuhnya ada di tangan lu sendiri.. Bahagiakan orang sekeliling lu, dengan demikian lu udah ngebahagiain diri sendiri..

Yup, gue sedang menjaring partner.. gue juga sedang menjaring teman..

Click here.. or email me, syarah_yunita@yahoo.com, or BUZZ me on my Yahoo Messenger, syarah_yunita.

Wednesday, April 22, 2009

FRIENDSTER WAS COOL


Itu tulisan yang pernah gue baca di t-shirt salah satu selebriti yang lagi diwawancara infotainment. Buat yang Englishnya pas-pasan kaya tetangga gue yang itu (ga usah ditulis ah namanya, ga enak) itu artinya "Friendster dulu keren".

Kesian juga ya itu Friendster, pelan-pelan (atau malah sangat cepat?) tergusur keberadaannya oleh Facebook yang fenomenal itu. Gue aja yang dulu anti berpaling dari Friendster (setia tanpa alasan sih sebenernya), akhirnya terjebak dengan keasyikan ber-Facebook-ria.

Gimana nggak keasyikan coba.. Teman-teman gue dulu tuh ya pas gue cari di Friendster, susahnyaaa.. minta ampun. Sampe gue bersu'udzon, jangan-jangan emang temen-temen gue gaptek semua, hahahahaha.. *siap-siap ditimpuk orang satu FB*

Eh.. begitu gue join Facebook, mendadak  yang namanya teman masa kecil bermunculan kayak jerawat di musim puber (apa sih..). Gue emang nggak suka nge-add teman yang nggak gue kenal beneran. Jadi jumlah teman gue nggak seheboh orang-orang yang friendlistnya udah ada kalimat 'FULL' segala. Tapi kalo teman sendiri jumlahnya udah di atas 100?? wah, itu prestasi banget buat gue yang ogah-ogahan berteman ini, hehe.. Kalaupun ada teman yang emang belom gue kenal tapi gue add di Facebook gue, biasanya itu adalah teman yang akan gue ajak kerja sama dalam berbisnis hehe.. teteup.. 

Kemaren gue buka-buka lagi Friendster gue. Gue aja hampir lupa passwordnya apa, hehe... Duh, sepinya.. terus baca-baca lagi blog lama gue, phew..  ternyata banyak juga ya tulisan gue di situ.. ada yang lucu, ada yang isinya ngomel-ngomel nggak jelas, ada yang asal tulis (kata suami gue yang nulis kayak orang lagi stress, makasih ya sayang.. hehe..), terus gue paling suka tulisan gue tentang hal-hal konyol kayak gini, whoaa... produktif juga gue dulu yak?!

Terus berlanjut ke friendlist, wah..banyak juga ternyata yang nggak gue add lagi di Facebook gue, hehe.. masih ketinggalan dikit nih sifat anti sosialnya, maaf ya teman-teman. Yang ngerasa dulu temenan ama gue di Friendster, ayo add aja gue di Facebook, insya Allah gue confirm-in kok pertemanannya.

Sunday, March 15, 2009

MY LONGTIME FRIEND

My favourite old friend Dietra sekarang jadi sering gue ganggu jam kantornya sejak gue dan dia terlibat di bisnis yang sama. Atau lebih tepatnya lagi sejak gue ‘dijerumuskan’ olehnya di bisnis yang menyenangkan ini.
Walaupun dia adalah sponsor gue (baca: bertanggung jawab akan eksistensi gue di bisnis tersebut) tapi sms gue sering dicuekin, telpon gue nggak diangkat, email gue gak dibaca, tapi gue tetap berpositif thinking, sesibuk apapun dia sampai tega-teganya menafikan keberadaan gue, temannya yang lucu dan menggemaskan ini, toh deep down in her heart she still miss me a lot. Itu terlihat di wall Facebook gue, gak ada angin gak ada ujan, tau-tau dia nulis, pst----gue kangen ma elu huahahahahahahahhaahhahaaaaaa Pendek sih kalimatnya, tapi dalem kan? hehe.. *sekaligus mengerikan*



Ki-ka: Lucky, Radith, Shinta, Gue, Dietra
Nah.. ada titipan dari teman-teman upline gue bahwa gue sebaiknya mengajak Mrs.Busy Mom yet Complicated Career Woman Dietra Anandani ini untuk bersosialisasi dengan mereka. Karena denger-denger sejak bergabung, bu Dietra ini belum pernah menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan bisnisnya. Belum berasa sih duitnya ya Bu Diet? Wekekkekekkk..

Coba kalau udah 7 jeti sebulan pasti bela-belain nelpon bu Syarah Yunita Virsandi buat bantu tutup poin.

So, gue menelponnya untuk menghadiri acara training di Bulungan yang diadakan tiap Sabtu jam 15.00, in order to setor muka ke para suhu dan nambah ilmu.

Penyakit lama deh. Kalo lagi diperluin, susaah.. banget make a contact dengan ibu ini. Mula-mula diintro pake sms, “gue dapet wp1 lho!” Kalimat ini lumayan sakti untuk memancing ucapan selamat dari upline-upline gue yang lain [yang sama sekali belum pernah bertatap muka dengan gue], hehehe.. Masak sih dari teman sendiri [yang juga upline gue langsung] nggak ada reaksi? Nunggu.. 1 jam.. 2 jam.. 3 jam..

Ternyata teteeeup gak ada balasan. Teganya dirimu sobat, lupakah dirimu saat kita berangkat sekolah bareng ke TK. Kuntum Harapan sambil nyanyiin lagu ‘Bukit Berbunga’nya Uci Bing Slamet? hihihi.. *anak kecil lebay dan paksa dewasa*

Ganti strategi.

Telpon ke kantor. Sibuk.

Telpon ke HP. Masuk, tapi nggak diangkat. Seperti biasa.

Telpon ke CDMA. Cuma kedengeran nada sambung, lagunya Indra Bekti, “eh, eh kok gitu sih, lo kok marah, jangan gitu sayang..

Ggrrrrkkkhhh!!

Strategi terakhir. Telpon rumahnya!
Pagi sampai sore nggak mungkin, karena dia kan kerja plus kuliah S2 [I’m so proud of her!]. So, nunggu sampai jam 20.30 malam, baru deh gue nyoba telpon. Akhirnya sukses juga!

“Waaaaah.. tumben lu nelpon gue?!” katanya. Perasaan ini udah usaha yang ke 230 deeh.. *tersenyum pahit*

Jadi setelah ngobrol ngalor ngidul, gue sampe ke misi gue.
“Diet, ke Bulungan yuu.. ikut training. Gue pengen tau kayak gimana.”

“Hah? Bukannya udah di JDC kemaren?”

Gubraks!!

Ketik C spasi D, Cape De…

Ternyata dia nggak seheboh gue belajar bisnisnya. Sampe nggak bisa bedain BOP sama training biasa.
“Hehehe.. maklum, gue belum sempet baca eBooknya,” gitu katanya. “Eh, laki lu kerja di daerah mana sih?” dengan cepat dia ngalihin topik. Tapi gue maklum juga sih, dulu waktu jaman gue diprospek, dia juga keliatan kurang niat, guenya aja yang udah kebelet pengen join.

“Eh? Laki gue di daerah Tendean situ.”

“Waa.. gue pengen ikut Dream Girls nih..”

“Hah?” Kok jadi jauh amat beloknya. Sabaar.. sabaar..

Mahluk yang satu ini emang otaknya berbentuk jangkrik, suka lompat sana lompat sini, jadi ngobrol nggak nyambung mah biasa. Hasilnya? Mudah ditebak.. Gue gagal ngajakin training.. Gue juga nggak pede ah jalan ke sana sendirian, hehe..

Next week kali yaa.. *tapi tetap semangat kok*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...